Wednesday, November 2, 2011

Tidak Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Yang Hendak Berkorban

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah dan ada di antara kamu semua yang ingin berkorban, maka janganlah memotong rambut dan kukunya walau sedikit.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 1977)
Nabi bersabda, “Apabila kamu telah melihat anak bulan Zulhijjah dan salah seorang dari kamu hendak berkorban, maka hendaklah dia menahan dirinya dari memotong rambut dan kukunya”. (HR Muslim)

Nabi bersabda, “Sesiapa yang memiliki sembelihan untuk disembelih, maka apabila masuk bulan Zulhijjah, maka janganlah sekali-kali dia memotong rambutnya dan kukunya sehingga dia berkorban”. (HR Muslim)

Menurut Imam Nawawi rahimahullah: “Maksudnya (dari larangan tersebut) ialah: Dilarang memotong kuku dengan gunting dan sebagainya. Dilarang menggunting (memotong) rambut sama ada membotakkan (mencukur), memendekkannya, mencabutnya, membakarnya atau selainnya. Termasuk dalam hal ini (dilarang) memotong bulu ketiak, misai, bulu kemaluan dan bulu yang ada di seluruh badan”. (Syarah Muslim 13/138)

Majoriti ulama dari mazhab Maliki, Syafie dan sebahagian Hanbali menyatakan makruh hukumnya bagi melanggarnya.

”Yang dimaksudkan dengan larangan memotong kuku dan rambut adalah larangan menghilangkan kuku dengan memotong, mencabut atau dengan cara lain (secara sengaja). Termasuk juga larangan menghilangkan rambut sama ada dengan mencukur, memendek, mencabut, membakar, menggunakan sesuatu untuk menghilangkan rambut dan apa juga cara sama ada pada bulu ketiak, misai, bulu ari-ari, rambut atau bulu-bulu lain di bahagain anggota badan yang lain.” (Imam an-Nawawi, Syarh Muslim, jil. 13, m/s. 138-139)

Manakala sekiranya dia melakukan perkara tersebut (memotong kuku atau rambut), Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:

“Sesiapa yang melanggar larangan ini (mengunting rambut dan memotong kuku pent.), hendaklah dia memohon keampunan dari Allah dan tidak ada fidyah baginya, sama ada disengajakan atau pun terlupa”. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, jil. 11, m/s. 96)


“تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ”
“Semoga Amalan Kami & Anda Diterima”

Tuesday, April 19, 2011

Sikap Seorang Muslim

Mencintai Allah dan RasulNya di Atas yang Lainnya

Seorang Muslim wajib mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada yang lain termasuk bapak, anak, istri, saudara, kekayaan.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24)

Allah telah memberikan kita hidup, tubuh, air, udara, jagad raya sehingga kita bisa hidup seperti sekarang ini. Tak dapat kita menghitung nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. 

“Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dan segala apa yang kamu mohon kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [Ibrahim:34]

Oleh karena itu sepatutnya kita mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lain.
Jika kita mencintai Allah, niscaya kita selalu bahagia karena Allah selalu bersama kita. Sebaliknya jika kita mencintai yang lain, maka kita akan sedih dan bahkan frustrasi jika yang kita cintai itu meninggalkan kita. Tak jarang kita mendengar orang jadi gila atau bunuh diri karena kekayaannya lenyap atau putus cinta dengan pacarnya.

Ikhlas Untuk Allah Ta’ala

Setiap shalat kita membaca Doa Iftitah yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semesta alam.”
Kita hidup bukan untuk mencari ketenangan atau pun kesenangan di dunia. Tapi untuk mengabdi kepada Allah yang telah memberikan segalanya bagi kita, meski nanti kita bisa merasakan pahitnya cobaan itu.
Tak jarang dalam mengabdi kepada Allah seperti amar ma’ruf nahi munkar dan melakukan syiar Islam Nabi mendapat tentangan yang hebat. Dari dilempari tahi unta, diejek, dikucilkan, hingga hendak dibunuh semua telah dialami oleh Nabi.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Al Baqarah:214]

Tapi keimanan yang kuat membuat Rasul dan orang-orang yang beriman tetap sabar dan tabah dalam menghadapi hidup. Semua dilakukan untuk Allah. Bukan pamer/riya agar dilihat orang. Bukan pula Sum’ah agar didengar orang.
Contoh lucu bagi orang yang berbuat baik tapi tidak ikhlas demi Allah adalah Caleg yang menyumbang TV ke masyarakat dan ada juga yang menyumbang karpet ke ibu-ibu pengajian. Namun begitu mereka kalah dan tidak terpilih, segera mereka ambil lagi TV dan Karpet itu sehingga mendapat protes dari warga yang telah menerimanya.
Sikap ikhlas untuk Allah semata dalam beribadah dan berbuat kebaikan akan membuat jiwa kita tenang dan mendapat kenikmatan surga di akhirat nanti:

“Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” [Al Fajr:27-30]

Sabar Menghadapi Cobaan

Seorang Muslim senantiasa bersabar terhadap cobaan yang mereka terima.
“Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka…” [Al An’aam:34]
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun “ [Al Baqarah:155-156]
Orang yang beriman menjadikan sabar dan shalat kepada Allah sebagai penolong mereka:
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al Baqarah:153]
Orang yang tidak sabar hanya akan merasakan kemarahan, keputus-asaan, dan kesedihan. Belum lagi azab dari Allah yang azabnya begitu pedih.

Selalu Bersyukur kepada Allah

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. “ [An Nahl:78]
Kita juga harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita seperti pendengaran, penglihatan, hati, dan juga pengetahuan.
Luqman seorang yang diberi Allah kebijaksanaan menasehati anaknya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman:12]

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrahim:7]

Sebagai tanda syukur kita kepada Allah SWT banyak yang bisa kerjakan mulai dari mengerjakan perintahnya hingga menjauhi larangannya. Dengan sering beribadah kepada Allah, shalat, puasa, zakat, dan bersedekah kepada fakir miskin dan menyantuni anak yatim itu merupakan satu bentuk syukur kepada Allah.

Bertawakal dan Berserah Diri Kepada Allah

Ummat Islam selain harus berikhtiar dan berdoa juga harus bertawakkal dan berserah diri kepada Allah:
“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.” [Ibrahim:12]
Kita harus yakin bahwa apa pun hasilnya, itulah yang terbaik bagi kita.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]
Kadang yang kita benci boleh jadi sebetulnya amat baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Allah Maha Tahu. Allah tahu yang terbaik bagi kita karena Dia adalah Pencipta Segalanya. Sementara manusia adalah makhluk yang tidak mengetahui meski sering sok tahu. Kita harus sadar bahwa Allah yang menciptakan Alam Semesta itu Maha Tahu. Sementara manusia yang tidak mampu menciptakan seekor lalat pun adalah makhluk yang tidak mengetahui kecuali secuil ilmu yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Rendah Hati

Seorang Muslim selalu rendah hati.
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [Al Furqon:63]
Allah marah pada orang yang sombong dan takabur:
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menganggap besar dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan amat marah kepadanya.” Riwayat Hakim dan para perawinya dapat dipercaya.
Mengapa Iblis dilaknat Allah? Karena Iblis sombong dan merasa lebih baik dari yang lain:
“Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” [Shaad:76]

Qana’ah dan Sederhana

Meski Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan mencari kurnia Allah, namun Allah memerintahkan manusia untuk tidak menumpuk harta dan bermegah-megahan. Sebaliknya menggunakan hartanya di jalan Allah dengan membayar zakat, sedekah, membantu fakir miskin dan anak yatim serta kerabat.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur:1]
“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” [Ar Ruum:38]
Nabi Muhammad meski merupakan pemimpin negara di mana 2 negara Super Power dunia, Kerajaan Romawi dan Persia, sudah nyaris jatuh ke tangannya, tetap hidup sederhana. Tidak bermewah-mewahan macam para pejabat kita sekarang ini. Kata Aisyah r.a tidak pernah keluarga Nabi makan kenyang selama 3 hari berturut-turut. Umar ra pernah menangis melihat Nabi tinggal di rumah yang nyaris tidak ada perabotan dan tidur di atas pelepah kurma.

Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas). (HR. Al Hakim)

Saat ini kita lihat banyak ummat Islam yang bermewah-mewahan seperti di Dubai orang membangun gedung tertinggi dan hotel yang mewah. Sementara orang-orang kafir dengan mudah menyerbu dan membantai ummat Islam di Palestina, Iraq, Afghanistan, Chechnya, dan sebagainya. Itu karena ummat Islam sekarang kena penyakit Wahn: Cinta Dunia dan Takut Mati:

Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Itulah beberapa sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim. Semoga kita semua bisa memilikinya.

Wednesday, April 6, 2011

Hukum lelaki memakai emas putih dan platinum

Hukum lelaki memakai emas amat jelas hukumnya, iaitu haram berdasarakn begitu banyak dalil-dalil hadith, antaranya :
Ali bin Abu Talib r.a. berkata: “Rasulullah s.a.w. mengambil sutera, ia letakkan di sebelah kanannya, dan ia mengambil emas kemudian diletakkan di sebelah kirinya, lantas ia berkata: Kedua ini haram buat orang laki-laki dari umatku.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)
Tetapi Ibnu Majah menambah: “halal buat orang-orang perempuan.”
Nabi s.a.w. juga pernah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, kemudian oleh Nabi dicabutnya cincin itu dan dibuang ke tanah.
Kemudian beliau bersabda: “Salah seorang diantara kamu ini sengaja mengambil bara api kemudian ia letakkan di tangannya. Setelah Rasulullah pergi, kepada si laki-laki tersebut dikatakan: ‘Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah.’ Maka jawabnya: ‘Tidak! Demi Allah, saya tidak mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah.’” (Riwayat Muslim)
Dan seperti cincin, menurut apa yang kita saksikan di kalangan orang-orang kaya, yaitu mereka memakai pena emas, jam emas, gelang emas, bekas penghidup rokok emas, gigi emas dan seterusnya adalah haram hukumnya.
Bagaimanapun, bagaimana pula hukum emas putih? Adakah hukumnya sama seperti emas biasa yang berwarna kuning? Untuk menjawab soalan ini, kita perlu memahami apakah itu emas secara umum. Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au (bahasa Latin: ‘aurum’) dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, “malleable”, dan “ductile”. Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh , fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius. (http://id.wikipedia.org/wiki/Emas )
Inilah namanya emas. Sekarang, jika terbukti emas putih adalah dari jenis yang sama logamnya maka hukumnya adalah sama dengan emas kuning. Jikalau kita melihat takrif emas putih di bawah :-
White Golds: What are they?
What are ‘white golds’? Are they a special form of gold? Do they contain gold? These are typical questions often asked of us. Well, they are not a special form of gold (which is why you cannot get 24 carat white gold). Actually, they are true carat golds, just like yellow or red carat gold jewellery. They are gold alloys that look white rather than yellow. The white colour is achieved by careful choice of the alloying metals, which bleach the deep yellow of pure gold. ( Rujuk : http://www.gold.org/jewellery/technology/colours/white.html

Juga disebut bahawa :-
“White gold is an alloy of gold and at least one white metal, such as silver or palladium. Like yellow gold, white gold is measured in Karats.” (http://en.wikipedia.org/wiki/White_gold)
Berdasarkan keterangan dari sumber-sumber yang berwibawa ini, saya kira adalah jelas bahawa emas putih adalah jenis logam yang sama dengan emas kuning cuma ia terdapat campuran logam berwarna putih samada dari perak atau palladium. Justeru, hukumnya adalah sama iaitu Haram buat orang lelaki dan halal bagi kaum wanita memakainya.
Adapun Platinum, ia adalah jenis logam yang berlainan
Dalam takrifannya Platinum adalah : “Platina adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pt dan nomor atom 78. Sebuah logam transisi yang berat, “malleable”, “ductile”, berharga, berwarna putih-keabuan. Platinum tahan karat dan terdapa dalam beberapa bijih nikel dan copper. Platinum digunakan dalam perhiasan, peralatan laboratorium, gigi, dan peralatan kontrol emisi mobil.” ( Rujuk : http://id.wikipedia.org/wiki/Platina )
Jelas dari penjelasan ini, bahwa emas putih bukanlah platinum sebagaimana yang didakwa beberapa pihak sehingga membawa kepada fatwa halal orang lelaki memakai emas putih kerana ia adalah platinum.
Kesimpulannya : Halal bagi lelaki memakai platinum dan haram baginya untuk memakai emas putih. Bagaimanapun yang terpilih tetap perak bagi orang lelaki, kerana ia adalah sunnah Nabi SAW jua.
Ust Zaharuddin Abd Rahman

Hukum Memakai Gelang dan Rantai Leher bagi Lelaki

Diriwayatkan dari Muhammad bin Basyar diriwayatkan dari Ghandar diriwayatkan Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibn Abbas R.A bahawa Rasulullah melaknat lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai lelaki. (Hadith Sahih Bukhari)

Dikhabarkan dari Abdullah bin Mu’az dikhabarkan dari Abi dikhabarkan dari Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibn Abbas bahawa Nabi S.A.W nabi melaknat perempuan yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai perempuan. (Hadith Abu Dawood)

Syeikh Yusuf AL-Qardhawi apabila ditanya mengenai lelaki yang memakai yang berikhtidhab, beliau menjawab:

Ikhtidhab adalah perbuatan yang menyerupai wanita dan menyerupai wanita adalah terlarang oleh syariah. (Ikhtidab ialah sejenis pewarna yang biasa digunakan pada telapak tangan)

Jadi di sini dapat kita faham bahawa memakai rantai atau gelang adalah perbuatan tasyabbuh kepada kaum wanita. Ia adalah terlarang melainkan dlm keadaan dharurat.


LELAKI PAKAI RANTAI BESI

Apakah hukum solat berimamkan imam yang fasiq?
Ibn Mas’ud pernah bersembahyang 4 rakaat solat fajr di belakang Al-Walid bin Uqbah ibn Abu Ma’it yang mana ia pernah meminum khamar dan Uthman bin Affan telah menyebatnya. Para sahabat pernah bersembahyang di belakang Ibn Ubaih yang diketahui sebagai seorang yang suka mengadu domba. Menurut fuqaha, sembahyang makmum adalah sah dan berimamkannya adalah sah. Walau bagaimanapun, mereka tidak menyukai bersembahyang di belakang orang fasiq atau pelaku bid’ah.
As-Sa’ib ibn Khilad meriwayatkan bahawa seorang lelaki telah mengimamkan solat orang ramai dan dia telah berbalah dalam menentukan qiblat. Nabi S.A.W nampak perkara ini dan bersabda: “Selepas ini Jgn biarkan dia mengimamkan kamu dlm solat.” Kmdn, lelaki itu hendak mengimamkan solat orang ramai tetapi para jamaah menghalangnya dan memberitahu bahawa baginda S.A.W memerintahkan demikian. Lelaki itu kmdn berjumpa Rasulullah S.A.W bertanyakan tentang perkara ini. Baginda S.A.W menjawab, “Benar, engkau telah merendahkan Allah dan RasulNya.” (Hadith Diriwayat Abu Dawud dan Ibn Hibban)

Solat makmum tetap sah.

Imam Bukhari meriwayatkan bahawa Ibn Umar telah bersembahyang di belakang (berimamkan) Al-hallaj.

Tok imam tu kena ingat bahawa disebut dlm hadith dari Abdullah ibn Amr bahawa Rasulullah S.A.W bersabda bahawa 3 jenis solat manusia tidak diterima, salah satunya ialah seorang yang menjadi imam tetapi tidak disukai oleh makmum.

Sungguhpun demikian makruh berbuat demikian. Imam At-tirmidzi berkata, “Adalah aku tidak menyukai orang yang mengimamlan solat tetapi para makmum tidak menyukainya. Sekiranya imam itu bukan seorang yang melakukan maksiat, maka dosa itu adalah pada mereka yang tidak menyukainya.”

================
Rujukan:
1. Islamonline.net
2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

Thursday, March 31, 2011

Aqidah Islamiyah

Aqidah Islamiyah "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (QS. An-Nisa':69)

Pendahuluan
Nilai suatu ilmu itu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar dan bermanfaat nilainya semakin penting untuk dipelajarinya. Ilmu yang paling penting adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah SWT, Sang Pencipta. Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT disebut kafir meskipun dia Profesor Doktor, pada hakekatnya dia bodoh. Adakah yang lebih bodoh daripada orang yang tidak mengenal yang menciptakannya?
Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya dibanding dengan makhluk / ciptaan lainnya. Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya (Menurut hadits yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak 124.000 semuanya menyerukan kepada Tauhid (dikeluarkan oleh Al-Bukhari di At-Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad di Al-Musnad 5/178-179). Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 (dikeluarkan oleh Ibnu Hibban di Al-Maurid 2085 dan Thabrani di Al-Mu'jamul Kabir 8/139)) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul. Namun ada yang menerima disebut mu'min ada pula yang menolaknya disebut kafir serta ada yang ragu-ragu disebut Munafik yang merupakan bagian dari kekafiran. Begitu pentingnya Aqidah ini sehingga Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah pada bagian ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan. Dia dalam tubuh manusia seperti kepalanya. Maka apabila suatu ummat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitisi adalah kepalanya lebih dahulu. Disinilah pentingnya aqidah ini. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akherat. Dialah kunci menuju surga.
Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. Pada keyakinan manusia adalah suatu keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah menurut terminologi syara' (agama) yaitu keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, Hari Akherat, dan keimanan kepada takdir Allah baik dan buruknya. Ini disebut Rukun Iman.
Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama : Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu, letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua : Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yang pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua, pertama : Ikhlas karena Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar. Kedua : Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas, karena faktor manusia, umpamanya, maka amal tersebut tertolak. Sampai benar-benar memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yang terkandung dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi 110 yang artinya : "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Perkembangan Aqidah
Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita diberikan keimanan sebelum Al-Qur'an"
Nah, pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad Al-Juhani (Riwayat ini dibawakan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 1 hal. 126) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), Al-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah wal Jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian dari Nabi SAW. Ringkasnya : Aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan ushuluddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul sunnah dan salaf.
Bahaya Penyimpangan Pada Aqidah
Penyimpangan pada aqidah yang dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akherat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas dan penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya :
  1. Tidak menguasainya pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar.
  2. Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi dalam Surat Al-Baqarah 170 yang artinya : "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apabila mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk."
  3. Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur'an dan Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
  4. Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu karena menganggap mereka sebagai penengah/arbiter antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat Surah Nuh 23 yang artinya : "Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr."
  5. Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
  6. Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan yang artinya : "Setiap anak terlahirkan berdasarkan fithrahnya, maka kedua orang tuanya yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya" (HR: Bukhari).
Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh acara / program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.
  1. Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari 2 jam seminggu dalam pelajaran agama, itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik kearah aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.
Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut diatas adalah mendalami, memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita yang sekali dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akherat kita, Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa' 69 yang artinya : "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yang artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Faedah Mempelajari Aqidah Islamiyah
Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu'min harus yakin kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akherat. Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah :
  1. Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.
  2. Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.
  3. Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah (outer focus of control).
  4. Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.
  5. Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya, antara pinter dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.

Monday, February 28, 2011


Ismail Haniyeh (kadang-kadang dieja Ismail Haniya), lahir pada Januari 1963, (Bahasa Arab: إسماعيل هنية) adalah pemimpin politik utama kumpulan / parti Hamas dan bekas Perdana Menteri Pihak Berkuasa Palestin.
Selepas Hamas merampas Gaza daripada Fatah pada 14 Jun 2007, beliau telah dipecat oleh Presiden Mahmoud Abbas. Sebenarnya Mahmoud Abbbas selaku Presiden Palestin, tiada ada kuasa membubarkan kabinet Ismail Haniyeh. Oleh kerana itu Ismail Haniyeh menolak pembubaran dan pemecatan itu kerana tidak perlembagaan.
Haniyeh dilantik sebagai Perdana Menteri pada 16 Februari 2006 berikutan Hamas diubah dan dibentuk semula pada selepas Hamas menang dalam Pilihan raya legislatif Palestin 25 Januari 2006. Beliau mengangkat sumpah sebagai Perdana Menteri pada 29 Mac 2006. Kemudian beliau meletak jawatan pada 15 Februari 2007 untuk membentuk kerajaan perpaduan antara Hamas dan Fatah. Beliau sekali lagi mengangkat sumpah sebagai Perdana Menteri pada 18 Mac 2007.

Biodata

Haniyeh lahir di kem pelarian Al-Shati di Genting Gaza. Pada 1948 ibu bapanya melarikan diri selepas serangan-serangan bom Israel dan tempat itu kini dikenali sebagai Ashkelon di Israel. Pada 1987, Ismail mendapat ijazah kesusasteraan Arab dari Universiti Islam Gaza. Pada 1989 dia dikurung selama 3 tahun oleh pihak keselamatan Israel dan dibebaskan pada 1992. Selepasa itu diusir oleh Lubnan. Dia pulang ke Gaza dan dilantik sebagai dekan Universiti Islam.
Selepas pemimpin rohaniah Syeikh Ahmed Yassin dibebaskan pada 1997, Haniyeh dilantik menjadi pengerusi Hamas. Tapi Israel mensasarkannya sebagai orang yang bertanggungjawab membunuh rakyat Israel.
Pada 2003 dia cedera di tangan selepas tentera udara Israel melepas tembakan di Baitulmuqaddis. Serangan Israel ini berikutan tindakan pejuang Hamas meletupkan diri dan mencederakan warganegara Israel. Pengaruhnya semakin meningkat selepas Kebangkitan Intifada terutama kerana hubungan erat dengan Syeikh Ahmed Yassin dan ramai pemimpin Hamas dibunuh oleh pihak keselamatan Israel.
Pada Disember 2005, Haniyeh telah dilantik mengetuai parti Hamas dan Januari 2006 memenangi pilihan raya Palestin.
Pada 16 Februari 2006, Hamas mencadangkan Ismail Haniyeh sebagai Perdana Menteri Palestin. Pada 30 Jun 2006 kerajaan Israel mengancam membunuh Haniyeh jika militan Hamas tidak membebaskan Gilad Shalit. Gilad Shalit ialah tentera Israel yang telah menceroboh dan mengintip di kawasan Gaza. Gilad tidak mengalami sebarang kecederaan.
Pada 20 Oktober 2006 Ismail Haniyeh mahu Fatah dan Hamas bersatu dan tidak bertempur sesama sendiri. Malam itu, Ismail terselamat dari serangan ketika sedang dalam konvoi untuk menemui Mahmoud Abbas di Gaza. Serangan itu bukan satu pakatan bunuh, sebaliknya seorang anggota Fatah yang mengamuk selepas bertelingkah dengan Hamas.
Pada 14 Disember 2006, Ismail Haniyeh dilarang masuk ke Gaza melalui sempadan Rafah, Mesir. Beliau dilarang masuk oleh Menteri Pertahanan Israel Amir Peretz.
Anak sulung Haniyeh cedera ketika melintasi sempadan.
Reaksi Israel
Israel menilai Ismail Haniyeh sebagai bahaya kerana tidak mengiktiraf kewujudan negara Israel. Ismail Haniyeh juga enggan mematuhi syarat meletakkan senjata.
Oleh itu langkah de facto sekatan ekonomi dilakukan. Kerajaan Israel enggan menyerahkan lebih USD600 juta wang cukai milik sah warga Palestin di Gaza.
Ismail Haniyeh menjawab beliau dilantik secara demokrasi oleh warga Palestin dan Israel tidak boleh menekannya. Israel tidak sepatutnya memberi layanan berbeza. Peruntukan wang cukai itu adalah hak sah rakyat Palestin, bukan sedekah daripada Israel.
Amerika juga menganggap Hamas sebagai organisasi pengganas. Amerika mengarahkan 50 juta dolar tidak dikeluarkan dari bank-bank asing untuk membantu kerajaan Hamas di Palestin. Menteri Ekonomi Palestin Mazen Sonokrot bersetuju memulangkan semula bantuan Amerika.
Ismail Haniyeh berkata,
"Pihak Barat sentiasa saja menggunakan wang bantuan kemanusiaan untuk menekan kembali penduduk Palestin yang dibantu."
Hamas mahu Israel terlebih dahulu mengiktiraf negara Palestin sebagaimana peta 1967, membebaskan banduan di penjara Israel, mengiktiraf hak pelarian untuk pulang ke Palestin. Jika tidak mereka akan terus berjihad sehingga Baitulmuqaddis dibebaskan. Malangnya Israel terus menghalang penduduk Israel untuk terus bekerja di tanah mereka, merampas tanah mereka dan melakukan pembunuhan demi pembunuhan.
Didahului oleh
Ahmed Qurei
Perdana Menteri Pihak Berkuasa Palestin
19 Februari 200614 Jun 2007
Diikuti oleh:
Salam Fayyad

Dalang di Palestin.....Hamas atau Israel?

cuplikan dari buku karangan Dr Hafizi Mohd Noor......

Pendahuluan...
Semenjak Hamas (Harakat al-Muqawamah al-Islamiyyah) Islamic Resistance Movement menang pilihanraya pada bulan Januari 2006, perjuangan rakyat Palestin memasuki fasa baru. Intifadah yang tercetus pada tahun 1987 dan berulang pada tahun 2000 telah membuahkan hasilnya. Perjuangan yang melonjak dengan kebagkitan rakyat dari mimbar-mimbar masjid akhirnya melahirkan Hamas untuk menghidupkan kembali harapan rakyat Palestin. Perjuangan yang dipelopori oleh golongan nasionalis sekular yang diterajui oleh PLO (Palestine Liberation Organization) dan Fatah (Harakat al-Tahrir al-Falastini) telah terbukti tidak mampu untuk mendukung hak rakyat Palestin. Mereka bukan sahaja gagal, bahkan bersekongkol pula dengan pihak musuh untuk melajutkan agenda penjajahan Israel keatas bumi Palestin.
 Keputusan pilihanraya Januari 2006 memberi laluan kepada Hamas untuk mengemukakan program politik mereka kearah penyelesaian konflik Palestin-Israel. Hamas bersedia untuk berdamai tetapi tidak dengan menggadaikan prinsip dan maruah rakyat Palestin. Mereka yakin, keamanan boleh dikembalikan di Palestin dengan syarat hak rakyat Palestin diiktiraf dan perjuangan mereka untuk membebaskan tanah air mereka dihormati. Penyelesaian bermaruah adalah harapan yang boleh disangkut oleh rakyat Palestin.