Tuesday, April 19, 2011

Sikap Seorang Muslim

Mencintai Allah dan RasulNya di Atas yang Lainnya

Seorang Muslim wajib mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada yang lain termasuk bapak, anak, istri, saudara, kekayaan.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24)

Allah telah memberikan kita hidup, tubuh, air, udara, jagad raya sehingga kita bisa hidup seperti sekarang ini. Tak dapat kita menghitung nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. 

“Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dan segala apa yang kamu mohon kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [Ibrahim:34]

Oleh karena itu sepatutnya kita mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lain.
Jika kita mencintai Allah, niscaya kita selalu bahagia karena Allah selalu bersama kita. Sebaliknya jika kita mencintai yang lain, maka kita akan sedih dan bahkan frustrasi jika yang kita cintai itu meninggalkan kita. Tak jarang kita mendengar orang jadi gila atau bunuh diri karena kekayaannya lenyap atau putus cinta dengan pacarnya.

Ikhlas Untuk Allah Ta’ala

Setiap shalat kita membaca Doa Iftitah yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semesta alam.”
Kita hidup bukan untuk mencari ketenangan atau pun kesenangan di dunia. Tapi untuk mengabdi kepada Allah yang telah memberikan segalanya bagi kita, meski nanti kita bisa merasakan pahitnya cobaan itu.
Tak jarang dalam mengabdi kepada Allah seperti amar ma’ruf nahi munkar dan melakukan syiar Islam Nabi mendapat tentangan yang hebat. Dari dilempari tahi unta, diejek, dikucilkan, hingga hendak dibunuh semua telah dialami oleh Nabi.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Al Baqarah:214]

Tapi keimanan yang kuat membuat Rasul dan orang-orang yang beriman tetap sabar dan tabah dalam menghadapi hidup. Semua dilakukan untuk Allah. Bukan pamer/riya agar dilihat orang. Bukan pula Sum’ah agar didengar orang.
Contoh lucu bagi orang yang berbuat baik tapi tidak ikhlas demi Allah adalah Caleg yang menyumbang TV ke masyarakat dan ada juga yang menyumbang karpet ke ibu-ibu pengajian. Namun begitu mereka kalah dan tidak terpilih, segera mereka ambil lagi TV dan Karpet itu sehingga mendapat protes dari warga yang telah menerimanya.
Sikap ikhlas untuk Allah semata dalam beribadah dan berbuat kebaikan akan membuat jiwa kita tenang dan mendapat kenikmatan surga di akhirat nanti:

“Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” [Al Fajr:27-30]

Sabar Menghadapi Cobaan

Seorang Muslim senantiasa bersabar terhadap cobaan yang mereka terima.
“Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka…” [Al An’aam:34]
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun “ [Al Baqarah:155-156]
Orang yang beriman menjadikan sabar dan shalat kepada Allah sebagai penolong mereka:
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al Baqarah:153]
Orang yang tidak sabar hanya akan merasakan kemarahan, keputus-asaan, dan kesedihan. Belum lagi azab dari Allah yang azabnya begitu pedih.

Selalu Bersyukur kepada Allah

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. “ [An Nahl:78]
Kita juga harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita seperti pendengaran, penglihatan, hati, dan juga pengetahuan.
Luqman seorang yang diberi Allah kebijaksanaan menasehati anaknya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman:12]

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrahim:7]

Sebagai tanda syukur kita kepada Allah SWT banyak yang bisa kerjakan mulai dari mengerjakan perintahnya hingga menjauhi larangannya. Dengan sering beribadah kepada Allah, shalat, puasa, zakat, dan bersedekah kepada fakir miskin dan menyantuni anak yatim itu merupakan satu bentuk syukur kepada Allah.

Bertawakal dan Berserah Diri Kepada Allah

Ummat Islam selain harus berikhtiar dan berdoa juga harus bertawakkal dan berserah diri kepada Allah:
“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.” [Ibrahim:12]
Kita harus yakin bahwa apa pun hasilnya, itulah yang terbaik bagi kita.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]
Kadang yang kita benci boleh jadi sebetulnya amat baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Allah Maha Tahu. Allah tahu yang terbaik bagi kita karena Dia adalah Pencipta Segalanya. Sementara manusia adalah makhluk yang tidak mengetahui meski sering sok tahu. Kita harus sadar bahwa Allah yang menciptakan Alam Semesta itu Maha Tahu. Sementara manusia yang tidak mampu menciptakan seekor lalat pun adalah makhluk yang tidak mengetahui kecuali secuil ilmu yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Rendah Hati

Seorang Muslim selalu rendah hati.
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [Al Furqon:63]
Allah marah pada orang yang sombong dan takabur:
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menganggap besar dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan amat marah kepadanya.” Riwayat Hakim dan para perawinya dapat dipercaya.
Mengapa Iblis dilaknat Allah? Karena Iblis sombong dan merasa lebih baik dari yang lain:
“Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” [Shaad:76]

Qana’ah dan Sederhana

Meski Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan mencari kurnia Allah, namun Allah memerintahkan manusia untuk tidak menumpuk harta dan bermegah-megahan. Sebaliknya menggunakan hartanya di jalan Allah dengan membayar zakat, sedekah, membantu fakir miskin dan anak yatim serta kerabat.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur:1]
“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” [Ar Ruum:38]
Nabi Muhammad meski merupakan pemimpin negara di mana 2 negara Super Power dunia, Kerajaan Romawi dan Persia, sudah nyaris jatuh ke tangannya, tetap hidup sederhana. Tidak bermewah-mewahan macam para pejabat kita sekarang ini. Kata Aisyah r.a tidak pernah keluarga Nabi makan kenyang selama 3 hari berturut-turut. Umar ra pernah menangis melihat Nabi tinggal di rumah yang nyaris tidak ada perabotan dan tidur di atas pelepah kurma.

Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas). (HR. Al Hakim)

Saat ini kita lihat banyak ummat Islam yang bermewah-mewahan seperti di Dubai orang membangun gedung tertinggi dan hotel yang mewah. Sementara orang-orang kafir dengan mudah menyerbu dan membantai ummat Islam di Palestina, Iraq, Afghanistan, Chechnya, dan sebagainya. Itu karena ummat Islam sekarang kena penyakit Wahn: Cinta Dunia dan Takut Mati:

Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Itulah beberapa sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim. Semoga kita semua bisa memilikinya.

Wednesday, April 6, 2011

Hukum lelaki memakai emas putih dan platinum

Hukum lelaki memakai emas amat jelas hukumnya, iaitu haram berdasarakn begitu banyak dalil-dalil hadith, antaranya :
Ali bin Abu Talib r.a. berkata: “Rasulullah s.a.w. mengambil sutera, ia letakkan di sebelah kanannya, dan ia mengambil emas kemudian diletakkan di sebelah kirinya, lantas ia berkata: Kedua ini haram buat orang laki-laki dari umatku.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)
Tetapi Ibnu Majah menambah: “halal buat orang-orang perempuan.”
Nabi s.a.w. juga pernah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, kemudian oleh Nabi dicabutnya cincin itu dan dibuang ke tanah.
Kemudian beliau bersabda: “Salah seorang diantara kamu ini sengaja mengambil bara api kemudian ia letakkan di tangannya. Setelah Rasulullah pergi, kepada si laki-laki tersebut dikatakan: ‘Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah.’ Maka jawabnya: ‘Tidak! Demi Allah, saya tidak mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah.’” (Riwayat Muslim)
Dan seperti cincin, menurut apa yang kita saksikan di kalangan orang-orang kaya, yaitu mereka memakai pena emas, jam emas, gelang emas, bekas penghidup rokok emas, gigi emas dan seterusnya adalah haram hukumnya.
Bagaimanapun, bagaimana pula hukum emas putih? Adakah hukumnya sama seperti emas biasa yang berwarna kuning? Untuk menjawab soalan ini, kita perlu memahami apakah itu emas secara umum. Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au (bahasa Latin: ‘aurum’) dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, “malleable”, dan “ductile”. Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh , fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius. (http://id.wikipedia.org/wiki/Emas )
Inilah namanya emas. Sekarang, jika terbukti emas putih adalah dari jenis yang sama logamnya maka hukumnya adalah sama dengan emas kuning. Jikalau kita melihat takrif emas putih di bawah :-
White Golds: What are they?
What are ‘white golds’? Are they a special form of gold? Do they contain gold? These are typical questions often asked of us. Well, they are not a special form of gold (which is why you cannot get 24 carat white gold). Actually, they are true carat golds, just like yellow or red carat gold jewellery. They are gold alloys that look white rather than yellow. The white colour is achieved by careful choice of the alloying metals, which bleach the deep yellow of pure gold. ( Rujuk : http://www.gold.org/jewellery/technology/colours/white.html

Juga disebut bahawa :-
“White gold is an alloy of gold and at least one white metal, such as silver or palladium. Like yellow gold, white gold is measured in Karats.” (http://en.wikipedia.org/wiki/White_gold)
Berdasarkan keterangan dari sumber-sumber yang berwibawa ini, saya kira adalah jelas bahawa emas putih adalah jenis logam yang sama dengan emas kuning cuma ia terdapat campuran logam berwarna putih samada dari perak atau palladium. Justeru, hukumnya adalah sama iaitu Haram buat orang lelaki dan halal bagi kaum wanita memakainya.
Adapun Platinum, ia adalah jenis logam yang berlainan
Dalam takrifannya Platinum adalah : “Platina adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pt dan nomor atom 78. Sebuah logam transisi yang berat, “malleable”, “ductile”, berharga, berwarna putih-keabuan. Platinum tahan karat dan terdapa dalam beberapa bijih nikel dan copper. Platinum digunakan dalam perhiasan, peralatan laboratorium, gigi, dan peralatan kontrol emisi mobil.” ( Rujuk : http://id.wikipedia.org/wiki/Platina )
Jelas dari penjelasan ini, bahwa emas putih bukanlah platinum sebagaimana yang didakwa beberapa pihak sehingga membawa kepada fatwa halal orang lelaki memakai emas putih kerana ia adalah platinum.
Kesimpulannya : Halal bagi lelaki memakai platinum dan haram baginya untuk memakai emas putih. Bagaimanapun yang terpilih tetap perak bagi orang lelaki, kerana ia adalah sunnah Nabi SAW jua.
Ust Zaharuddin Abd Rahman

Hukum Memakai Gelang dan Rantai Leher bagi Lelaki

Diriwayatkan dari Muhammad bin Basyar diriwayatkan dari Ghandar diriwayatkan Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibn Abbas R.A bahawa Rasulullah melaknat lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai lelaki. (Hadith Sahih Bukhari)

Dikhabarkan dari Abdullah bin Mu’az dikhabarkan dari Abi dikhabarkan dari Syu’bah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibn Abbas bahawa Nabi S.A.W nabi melaknat perempuan yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai perempuan. (Hadith Abu Dawood)

Syeikh Yusuf AL-Qardhawi apabila ditanya mengenai lelaki yang memakai yang berikhtidhab, beliau menjawab:

Ikhtidhab adalah perbuatan yang menyerupai wanita dan menyerupai wanita adalah terlarang oleh syariah. (Ikhtidab ialah sejenis pewarna yang biasa digunakan pada telapak tangan)

Jadi di sini dapat kita faham bahawa memakai rantai atau gelang adalah perbuatan tasyabbuh kepada kaum wanita. Ia adalah terlarang melainkan dlm keadaan dharurat.


LELAKI PAKAI RANTAI BESI

Apakah hukum solat berimamkan imam yang fasiq?
Ibn Mas’ud pernah bersembahyang 4 rakaat solat fajr di belakang Al-Walid bin Uqbah ibn Abu Ma’it yang mana ia pernah meminum khamar dan Uthman bin Affan telah menyebatnya. Para sahabat pernah bersembahyang di belakang Ibn Ubaih yang diketahui sebagai seorang yang suka mengadu domba. Menurut fuqaha, sembahyang makmum adalah sah dan berimamkannya adalah sah. Walau bagaimanapun, mereka tidak menyukai bersembahyang di belakang orang fasiq atau pelaku bid’ah.
As-Sa’ib ibn Khilad meriwayatkan bahawa seorang lelaki telah mengimamkan solat orang ramai dan dia telah berbalah dalam menentukan qiblat. Nabi S.A.W nampak perkara ini dan bersabda: “Selepas ini Jgn biarkan dia mengimamkan kamu dlm solat.” Kmdn, lelaki itu hendak mengimamkan solat orang ramai tetapi para jamaah menghalangnya dan memberitahu bahawa baginda S.A.W memerintahkan demikian. Lelaki itu kmdn berjumpa Rasulullah S.A.W bertanyakan tentang perkara ini. Baginda S.A.W menjawab, “Benar, engkau telah merendahkan Allah dan RasulNya.” (Hadith Diriwayat Abu Dawud dan Ibn Hibban)

Solat makmum tetap sah.

Imam Bukhari meriwayatkan bahawa Ibn Umar telah bersembahyang di belakang (berimamkan) Al-hallaj.

Tok imam tu kena ingat bahawa disebut dlm hadith dari Abdullah ibn Amr bahawa Rasulullah S.A.W bersabda bahawa 3 jenis solat manusia tidak diterima, salah satunya ialah seorang yang menjadi imam tetapi tidak disukai oleh makmum.

Sungguhpun demikian makruh berbuat demikian. Imam At-tirmidzi berkata, “Adalah aku tidak menyukai orang yang mengimamlan solat tetapi para makmum tidak menyukainya. Sekiranya imam itu bukan seorang yang melakukan maksiat, maka dosa itu adalah pada mereka yang tidak menyukainya.”

================
Rujukan:
1. Islamonline.net
2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq